• Untitled-1A.jpg
  • Untitled-1B.jpg
  • Untitled-2B.jpg
  • Untitled-3.jpg
  • Untitled-4.jpg

Surau di Minangkabau setelah kedatangan agama Islam secara umum dapat dikelompokkan kepada dua bentuk yaitu pertama Surau Gadang (surau besar) yaitu surau yang menjadi induk dari beberapa surau-surau kecil di sekitarnya. Surau ini biasanya sekaligus tempat kediaman guru atau Syekh yang mashyur dengan kealimannya.

Di Surau Gadang ini dilakukan pengajian rutin oleh Syekh dengan murid-muridnya yang menjadi guru pada surau-surau di daerah sekitar Surau Gadang tersebut. Penamaan Surau Gadang ini biasanya dikaitkan dengan nama Syekh yang mendiami surau itu atau nama daerah tempat surau itu berdiri. Misalnya Surau Gadang Tanjung Medan di Ulakan. Surau-surau gadang ini pada akhirnya ada yang difungsikan sebagai masjid, pesantren, dan tempat pengajian.

Foto: Surau Gadang Tanjung Medan, Ulakan
Sumber: Hasil Survey Penulis, 2013

Kedua Surau Ketek (surau kecil). Dilihat dari jenisnya ada dua bentuk yaitu Surau yang didirikan oleh suku, Korong kampung, dan pedagang. Contohnya surau-surau yang banyak ditemukan di nagari-nagari di Sumatera Barat. Pada umumnya pada jenis ini memiliki akar dan posisi yang kuat dalam masyarakat, karena di surau ini dilakukan bermacam-macam kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan, seperti mengaji Al Quran, wirid agama, pengajian Tarekat bela diri silat, belajar panitahan (pidato adat) dan kesenian masyarakat lainnya.

Surau yang didirikan disekitar Surau Gadang yang didiami oleh murid-murid yang belajar pada seorang Syekh. Model surau ketek ini, dapat ditemukan pada komplek Surau Pondok Ketek Ulakan Pariaman.

Selanjutnya, surau dalam kedua pengertian diatas secara institusional masih tetap terpelihara dan berfungsi sebagaimana mestinya, disamping mengalami perubahan yang bervariasi sekali. Diantara perubahan yang paling menonjol adalah beralihnya fungsi pendidikan Surau kepada pendidikan formal (Madrasah).

  

Foto: Ruang dalam Surau
Sumber : Hasil Survey Penulis, 2013

Surau Syekh Burhanuddin terdiri dari dua bangunan meliputi bangunan serambi berdenah segi empat panjang sebagai bangunan tambahan yang dibuat kemudian. Bangunan ini beratap gonjong dan berfungsi sebagai entrance hall dan keseluruhan bangunan ini terbuka.

Kemudian bangunan berdenah segi empat bujur sangkar yang terletak di belakang serambi. Pada prinsipnya atap bangunan ini menggunakan struktur konstruksi joglo. Sebagaimana mesjid kuno di Jawa, diantaranya masjid Demak. Namun sesuai dengan keadaan dan kebiasaan orang Minangkabau, bangunan Surau ini dibuat berkolong (konstruksi panggung).

Terdapat empat tiang utama dikelilingi dua deretan anak tiang. Pada deretan pertama berjumlah 12 tiang dan pada deretan kedua 20 anak tiang. Dengan empat tiang utama atau tiang panjang (soko guru/Jawa) di tengah dengan dua deretan anak tiang disekelilingnya. Struktur bangunan ini dengan atap bersusun tiga, dinding ruangan melekat pada deretan anak tiang kedua (20 tiang). Semua tiang dihubungkan dengan kayu yang disambung dengan rotan yang disimpai.

Atap Surau Syekh Burhanuddin ini ada persamaannya dengan beberapa surau lainnya di Minangkabau diantaranya Surau Koto Nan Ampek di Payakumbuh dan Surau Limo Kaum di Tanah Datar. Terlihat perkembangan arsitektur konstruksi atap tumpang dengan bentuk berpuncak dengan hiasan mahkota. Sama dengan masjid Demak yang dibangun dalam abad ke 14.

Penulis merupakan Dosen Teknik Arsitektur Universitas Bung Hatta. Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.